Tukang Cukur


by Darminto M Sudarmo

            DI sudut kota, dekat sekali dengan tumpukan sampah yang menggunung aku buka praktek. Letak yang kupilih, atau lebih tepat terpaksa kupilih, memencil. Hampir diabaikan orang. Tenggelam oleh raksasa gedung dan belantara teknologi. Meskipun demikian, aku merasa tak ada alasan untuk mengeluh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ciuman Maut Raden Antarja


by Darminto M Sudarmo

Senja itu udara diliputi mendung. Tak ada angin bertiup sepoi-sepoi basah. Yang ada desiran angin puyuh. Menerbangkan rumput kering menumbangkan ranting-ranting lapuk. Pada saat demikian, biasanya orang enggan ke luar rumah. Lebih enak tidur menekuk kaki memeluk guling. Atau tiduran berselimut bulu domba (jika punya). Tapi tidak demikian halnya dengan Raden Antarja, si putra Bima yang sulung ini. Dia baru saja lulus dari pendidikan militer yang maha dahsyat. Hasil gemblengan kakeknya sendiri Prof. Antaboga yang punya istana di bawah tanah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Iklan Duka Lara


by Darminto M Sudarmo

Di senja yang ramah itu saya menikmati kue dan teh manis di kebun samping rumah. Cuaca memang terasa nyaman, meski sebentar lagi malam siap membungkus dengan kegelapan. Saya duduk pada bangku malas yang telah saya rancang sedemikian santainya, sehingga membuat siapa saja yang duduk dapat lupa berdiri. Beberapa rimbunan bunga-bunga di kebun itu gemersik kala angin senja mengkili-kili dan menggoyang-goyangkan dedaunannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Buruh Bangunan


by Darminto M Sudarmo

SEKARANG, tak ada lagi Bandung lautan api. Yang ada Bandung lautan kendaraan. Jika Anda pendatang baru, belum lengkap rasanya mengenang Bandung bila Anda belum pernah kesasar. Jalan-jalan di Bandung memang istimewa. Punya daya pikat luar biasa untuk membuat pendatang baru kesasar. Semakin sering orang kesasar, semakin indah rasanya melahap pesona kota ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Balada Si Anak Tunggal


by Darminto M Sudarmo

Demi Tuhan, izinkanlah aku bilang, bahwa akulah anak yang paling bahagia di dunia ini. Umurku baru delapan belas tahun. Tak punya kakak tak punya adik. Akulah si anak tunggal. Akulah yang menjadi raja di rumah orang tuaku. Mereka terlalu sayang padaku. Mereka terlalu cinta padaku. Karena aku anak tunggal. Karena aku anak yang punya tunggul satu-satunya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kalabendana Gim


by Darminto M Sudarmo

BUNYI bolduser yang dinaiki Ditya Kalabendana meraung-raung seperti teriakan orang kesurupan setan. Saat itu otak Kalabendana nyaris teler. Pelipisnya benjut kena pukulan Angkawijaya, sakitnya tak karuan. Sebentar-sebentar terasa nyut … nyut … nyut. Kontan saja kendaraan yang dinaiki sebentar oleng ke kanan, sebentar oleng ke kiri. Dan manakala dia sampai di daerah yang lapang, buldoser itu langsung berputar-putar membentuk lingkaran atau kadang angka delapan. Anehnya si Kala yang bendana ini kelihatan senyum-senyum sambil memperlihatkan baris-baris giginya yang yellow sweet.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Uang


by Darminto M Sudarmo

Senja yang kuning  itu Senjaya nampak memperlihatkan wajah yang lumayan cerahnya. Berkali-kali dia cengar-cengir sendiri. Lalu tengok kanan kiri. Lalu ketika diketahuinya tak seorangpun di sekitarnya, dia berjingkat mempercepat langkahnya. Ingin dia bisa sampai rumah secepat mungkin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contact